Tampilkan postingan dengan label Thinking. Tampilkan semua postingan
data:navMessage/>
4

Sebentar Hilang


Sore itu di sela-sela ramai kota aku terduduk di sudut ruangan sebuah warung kopi. Mataku kosong, otakku melompong. Hatiku, bolong. 
Meja-meja kayu, grinder kopi, toples-toples yang berisi biji-biji kopi tersusun rapi di rak seperti mengerti keadaan ini, menjembatani sel-sel otak dengan seluruh jiwa ragaku. Seisi ruangan ini memberiku tempat mengasingkan diri. Memberiku wadah introspeksi, mengistirahatkanku dari letih ini.

Aku diam, memandangi layar ponselku yang retak seribu. Jemari yang berusaha menyentuh LCD dengan presisi, hati-hati. Aku seperti menembus dimensi baru yang asing. Ragaku terduduk ditemani aroma kopi, sebuah buku, kacamataku, dan ponsel tua yang sudah tiga tahun menjadi teman terbaikku. Tetapi otakku jauh dari situ. Menerawang lembah-lembah masa lalu, mengaitkannya dengan hari ini, dan mencoba menerka masa nanti.

"Mengapa aku begini?."

"Sekarang, kenapa aku bisa disini?"

"Kenapa jadi aku yang sekarang?"

"Lalu, akan jadi apa aku di masa datang?"

"Sekarang aku harus apa?" 

Pertanyaan-pertanyaan itu seperti virus yang menginfeksi otakku. Memaksa amygdala bekerja yang sepersekian detik kemudian diteruskan ke bagian hippocampus. Mengaitkan kejadian-kejadian masa lalu, waktu sekarang dan berhipotesa tentang masa depan, kemudian kembali ke masa sekarang, mengaitkannya lagi dengan masa lalu. Terus begitu, berulang-ulang. Aku sendirian disini, tapi merasa ditemani. Ditemani diri sendiri.

"Mungkin ini yang dibilang Meraga Sukma", batinku. Ragaku disini, tetapi jiwaku menerawang waktu. Aku disini, memperkosa ingatan-ingatan tempo dulu. Melihat diriku, melesat ke masa lalu, memilah-milah rekaman di otakku. Aku merasa menemukan segalanya. Aku sutradaranya, aku aktornya, dan aku juga penontonnya. Dengan waktu, sebagai sekat-sekat pembatasnya.

Bicara soal waktu, aku kembali menjembataninya dengan berkas-berkas yang ada di memori otak ku. Aku kembali teringat dengan pertanyaan sederhana.

"Mengapa aku berada disini?"

Aku segera ingat tujuanku, memanja mata, menyesakki otak yang melompong, dan menyumpal hati yang bolong, walaupun hanya sejenak, lalu bolong lagi. Semua itu kudapatkan di tempat ini, sepi yang meramaikan otak, memanja mata, dan mengisi hati. Sebentar saja, hilang lagi?, tak apa.


Kita adalah saat ini, karena dulu adalah lalu, dan besok adalah nanti. Hilang?, pasti.




Lanjut!
0

Dinamika Konsistensi


Beberapa memaknainya tetap, tapi bagiku ini adalah soal dinamisasi. Dinamis pun bisa berarti tetap, tetap berkembang meski terhalang. Tetapi tetap adalah diam, ditempat. Diam, berhenti, tidak bergerak lagi. Lalu masihkah konstan adalah tetap bagimu, kawan?.

Setiap waktu, detik, menit, hari, sampai tahun yang kita lalui selalu konstan. Tetapi, apakah semua itu tetap diam?, tidak. Lalu, masihkah kita berfikir bahwasanya konsisten adalah tetap?. Usia di setiap tahun pun bertambah, tetap. Tetap bertambah satu di setiap tahunnya.

Sebentuk pula dengan ilmu yang kita dapat. Tidakkah kita terlebih dulu mengetahui huruf, lalu disusul dengan ejaan kata?. Tidakkah kita mengetahui lambang bilangan terlebih dulu baru kemudian nilai angka?. Lalu, masihkah ketetapan itu kau anggap konsisten?, atau konsistensimu selalu tetap, diam ditempat?.

Yap, sederhananya konsisten adalah gerak dinamis bertahap, tidak tetap. Konsisten adalah berkembang seiring waktu, tidak itu-itu melulu. Bukan begitu?.

Konsisten itu 1,2,3,4. Bukan 1, 1, 1, 1. 

Untuk -iman, yang memberi bahasa sederhana soal Dinamika konstan.
Lanjut!
4

Ini Bahagiaku, mana Bahagiamu?


Hidup memang punya warna tersendiri bagi setiap pelakunya. Dan warna itu tidak pernah tetap. Sang waktu kadang mengubahnya menjadi lebih terang, dan kadang menggelapkan warna hidup. Sebagai pelaku hidup, kita hanya bisa berjuang sebisanya. Sebisanya bukan berarti sudah merasa cukup berjuang. Karena berjuang tidak pernah cukup, berjuang itu terus, berjuang itu berkesinambungan. Masalahnya, perjuangan tak pernah mudah, dan berjuang tidak akan pernah selesai. Terlebih berjuang untuk mencari bahagia.
Aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang menginspirasi. Mereka memang bukan orang-orang besar. Bukan pula orang orang cerdas dengan rentetan prestasi mencengangkan. Mereka, orang-orang yang menikmati hidup dengan cara mereka sendiri. 
Dan dari mereka aku belajar bahwasanya hidup bahagia tak mesti di lingkungan yang terlihat membahagiakan. Hidup senang tak melulu soal uang. Bagi mereka, bahagia adalah berbagi cerita. Ada pula yang bahagianya adalah secangkir kopi ditemani petikan dawai gitar. Ada lagi yang bahagianya adalah menahan lapar sebisa mungkin untuk berhemat agar bisa memenuhi keinginannya. Ada lagi yang bahagianya adalah menyendiri.
Nikmat hidup adalah soal bersyukur. Dan syukur yang tulus adalah menjalani tanpa menggerutu. Menjalani hidup sebisanya. Bagiku, bahagia bukanlah sesuatu yang harus dikejar. Bahagia adalah menikmati kejaran waktu, menikmati setiap detik yang aku lalui dengan keributan di otakku. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bagi orang lain sia-sia. Menikmati sesuatu tanpa memikirkan materi. Itu caraku menikmati hidup.
Bahagia, tak semudah yang kutuliskan, tapi juga tak sesulit yang kau bayangkan, kawan.
Lanjut!
14

Perkara Niat, usaha, dan Botol Air

Perkara Niat, Usaha, dan Botol air

Lagi-lagi nggak bisa tidur. Bingung mau ngapain. Ngelamun, otak gue flashback sendiri, bak mesin waktu dengan auto pilot. Otak, dan batin gue ribut besar, otak mikirin A, hati ngerasain B. Ujung-ujungnya otak dan hati. Dan pada akhirnya, mereka (re:otak dan hati) ketemu di satu titik. Gaktau kenapa ngerucut ke persoalan "Niat".

Apasih niat?. Nah loh bingung kan? Sama, gue juga bingung kalo ditanya begini. Tapi kalo di otak gue, niat itu janji orientasinya ke tujuan. Kurang lebih gitu. Misalnya nih, niat lo sekolah apa?. Pasti jawaban lo sama dengan kalo ditanya gini Tujuan lo sekolah buat apa?. Iya nggak?, iyaaa deh, pleeeeaase.

Gue ngerasa, hal-hal yang ngebuat berhasil, atau gagalnya seseorang, salah satunya dari niat. Niat itu gue analogikan ibarat wadah dan usaha itu gu ibaratin air. Dan air mau nggak mau bakal ngikutin wadahnya. Kalo wadahnya botol, ya air yang diisi bentuknya kayak botol, dan muatannya pun cuma sebotol. Kalo wadahnya drum, airnya bakal ngikutin bentuk drum, dan isi airnya bakal lebih banyak dari yang ada di botol tadi. Tapi yang terpenting disini bukan besar atau kecil wadahnya, karena mau wadahnya segede gaban juga kalo kebalik ya air yang dimasukin bakaln tumpah. Iya, tumpah.

Usaha yang dilakuin sekeras apapun, kalo niatnya salah bakalan sia-sia. Eh gak ding, masih ada yang bakal di dapet dari kesia-siaan, yang satu dapet capek (pasti!). Tapi bonusnya ya tulisan ini, jadi pengalaman, niat gue belum lurus, makanya gue gagal. Lalu, semoga untuk berikutnya kita semua punya niat yang lurus. 
Lanjut!
1

Melawan Negeri Sendiri


Sore itu, hiruk pikuk kemacetan lalu-lintas sangat menegaskan individualisme metropolitan. Bunyi klakson kendaraan menjadi pengiring sore menuju senja. Wajah-wajah lelah dengan hati yang dipenuhi ego khas manusia terlihat sepanjang jalan raya. Kesana-kemari aku membuang pandanganku, tak menentu. Isi otakku juga hanya "Rumah, cepat sampai rumah dan tidur". Tak jarang aku menggerutu dengan para pengendara yang mungkin punya pemikiran yang sama di sekelilingku.

Lamunanku diatas kuda besi tiba-tiba di pecahkan oleh seorang anak manusia. Seorang anak laki-laki yang mungkin berusia kurang dari 10 tahun berkulit coklat tua hasil bakaran sinar surya, dan ditambah bedak alami jalanan kota. Dia lalu-lalang diantara para pengendara  yang menunggu lampu hijau sembari menjajakan koran edisi hari itu. Beberapa orang hanya mengangkat tangannya mengisyaratkan kepada anak itu agar menjauh, beberapa lagi tak menghiraukannya dan menganggapnya nihil.

Aku hanya prihatin dengan negeri yang punya julukan Untaian Zambrud Khatulistiwa ini. Negeri yang pernah dijajah karena kekayaan alamnya, dan dimerdeka kan oleh persatuannya. Negeri yang nyaris tidak lagi mengamalkan dasar negaranya. Anak terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara, yang seharusnya merasakan atmosfer pendidikan lantas berkeliling menjajakan koran. Anak khatulistiwa yang malang.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?.

Kita generasi 90an mungkin sudah muak dijejali oleh keaadaan negeri yang seperti ini. Korupsi dari recehan sampai trilliunan,  pungutan liar dimana-mana, uang pelicin inilah, itulah. Semua itu jelas terpatri dalam benak kita. Lalu, berapa banyak anak terlantar yang kehilangan haknya?, Hak untuk dipelihara oleh negara.

Lewat tulisan ini, saya berharap semoga kelak generasi kita adalah generasi yang membawa indonesia ke arah yang lebih baik. Tidak untuk menyalahkan pihak manapun, melainkan untuk menanam kembali nilai-nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika yang makin lama makin lebur dengan lembaran kertas dengan wajah pahlawan.

Semoga generasi ini adalah generasi yang mau berubah, mau bangkit setelah jatuh berpuluh tahun. Generasi yang mau peduli dengan nasib negeri Indonesia. Makin lama kita terpuruk, makin sulit kita untuk bangkit. Masalahnya, tidak lagi butuh senjata api untuk membunuh musuh negeri, tapi melawan pemikiran individualis dan korupsi bangsa sendiri, melawan diri sendiri. 
Lanjut!
7

Tips Menyusun KRS

Tips Nyusun KRS

Nggak lama lagi mahasiswa dan mahasiswi akan menempuh semester baru. Sebelum itu, mereka harus nyusun Kartu Rencana Studi, atau lebih akrab disebut KRS. Karena penyusunan KRS adalah salah satu penentu kesuksesan kuliah dan besar/kecilnya Indeks Prestasi Semester Mahasiswa. Sebelum lu nyusun KRS, hal pertama yang harus lu lakuin adalah Membayar SPP kuliah. 

"Iyalah begoooo".

Langsung aja deh, ini cara paling efektif dalam menyusun KRS menurut pengalaman gue selama 6 semester di perkuliahan. 


1.  Dosen
Ya, hal paling pertama yang gue perhatiin adalah Dosen. Kalo lu pengin IP dan IPK lu naik, carilah dosen yang gak pelit nilai. Dosen yang sering "pukul rata" pas ngasih nilai biasanya jarang masuk, otomatis lu kurang dapet ilmu dari beliau. Tapi kalo lu pengin bener-bener belajar dan dapet ilmu, carilah dosen yang serius dan objektif, tapi biasanya dosen tipe ini agak susah ngasih nilai A. 
NB: Kalo masih mahasiswa baru, sebaiknya tanya kakak tingkat soal tipe-tipe dosen di kampus lu.

2. Mata Kuliah Prioritas.
Nah, hal kedua yang harus diperhatiin adalah mata kuliah. Tips ini gue dapet dari pembimbing gue. Kita harus pinter-pinter milih mata kuliah. Utamakan mata kuliah wajib. Setelah milih mata kuliah wajib, kalo udah semester atas biasanya di setiap jurusan punya mata kuliah pilihan. Waktu nentuin mata kuliah pilihan, kita liat lagi mata kuliah wajib yang udah kita pilih tadi. Seandainya di mata kuliah wajib udah banyak hitung-hitungan, usahain milih mata kuliah yang bersifat hafalan di mata kuliah pilihan, begitupun sebaliknya. Intinya, jangan milih mata kuliah yang sifatnya berhitung semua, atau hafalan semua.

3. Jadwal Kuliah 
Jadwal kuliah adalah salah satu hal paling penting yang harus diperhatiin. Kan sayang, kalo misalnya kampus lo jauh dari rumah, terus pas lu sampe kampus dosennya gak masuk, dan hari itu jadwal lu cuma satu mata kuliah. Kan ongkosnya lumayan, bisa buat beli es cendol, 

Yap, jadi itu urutan hal-hal yang gue terapin selama 6 semester gue kuliah. Dan bakalan gue terapin sampe gue tamat. Semoga bermanfaat :D
Lanjut!
4

Mindset is Everything

Mindset is Everything


Pernah kepikiran gak, apa sih hal yang paling berharga di dalam diri seseorang?. Bukan, bukan hartanya, bukan stylenya, bukan pembawaannya, bukan cara ngomongnya, apalagi pacarnya. Gue sering mikirin itu. Setiap gue ngeliat orang-orang yang tekun, orang-orang yang gak mudah nyerah, orang orang yang sukses, yang ada dalam pikiran gue,

Apa sih yang ada di kepala orang ini ? 

Coba liat temen di sekitar kita yang dianggep sukses sebelum waktunya. Atau temen-temen yang punya hobi gak biasa, ngoding misalnya. Atau juga liat seniman yang gak pernah bosen menciptakan karya seni yang baru. Atau penulis yang gak pernah bosen nnulis buku. Ada juga kompetisi penghafal Al-Quran cilik, yang gak pernah nyerah buat mempelajari, dan menghafalkan Al-Quran, padahal mereka masih kecil. Penjahit yang terus-terusan berkarya dengan mesin jahitnya selama bertahun-tahun. Dan, masih banyak lagi orang-orang dengan pekerjaannya, dengan kesuksesannya.

Terus Kenapa?.

Gue kepikiran, apa sih yang ngebuat mereka bisa tekun?. Dan gak pernah bosen dengan apa yang mereka lakuin selama bertahun-tahun. Bukan, menurut gue bukan hanya sekedar hobi. Apalagi cuma karena uang, bukan. 

I think it's all about mindset, because mindset is everything

Ya, Mindset, pola pikir. Kadang-kadang gue berkhayal, seandainya gue bisa meretas otaknya Bill Gates biar tau pola pikir bisnisnya. Masuk ke otaknya Cristiano Ronaldo biar gue tau pola pikir dia yang terus tekun latihan sepakbola. Masuk ke otaknya Raditya Dika, Bena Kribo, dan orang-orang sukses lain, yang selalu tekun dan konsisten dengan apa yang dikerjakannya.

Dan, bukan cuma itu, seandainya gue bisa, gue juga mau meretas otak penjahat, masuk juga ke otak koruptor, ke otak para pecundang. Kenapa?, yaaa biar gue bisa ngelihat jelas perbedaan pola pikir orang-orang sukses dan para pecundang tersebut. Hmmm, tapi itu cuma khayalan. Semoga kita bisa dapetin pola pikir (dan termasuk) orang-orang yang sukses dan beruntung. Sekali lagi, 

Mindset is Everything-Anonymous
Lanjut!
5

Identifikasi


Identifikasi
Manusia adalah salah mahkluk terbaik yang diciptakan tuhan. Betapa tidak, manusia memilike ketidaksempurnaan yang justru menyempurnakan mereka. Mereka memiliki negasi dari sifat baik, yakni keburukan. Mereka diberikan otak yang dapat melengkapi keterbatasan. Mereka dibekali otot yang digunakan sebagai alat gerak. Manusia terdiri dari organisasi antar sel, yang membentuk jaringan, jaringan yang menjadi organ, organ yang terorganisir menjadi sistem organ. Dari segi fisik, manusia diciptakan oleh sang maha cipta dengan sedemikian rupa. 
Kemudian manusia tumbuh dan berkembang. Seiring waktu, dalam perkembangannya manusia dipengaruhi oleh banyak hal, lingkungan salah satunya. Yap, menurut gue lingkungan adalah salah satu faktor yang paling mempengaruhi manusia dalam tumbuh kembangnya.
Mulai dari cara berpakaian, pola pikir, tingkah laku, dan lain-lain manusia tidak terlepas dari meniru, mencontoh, atau mengikuti salah satu sifat dari individu yang ada di lingkungan mereka yang mereka anggap baik. 
Kita sering memberi stampel kepada sekelompok orang, entah itu cap yang baik atau buruk. Lalu coba kita sedikit berpikir,

"Mengapa mereka begitu?"
"Lalu, apa yang membuat mereka begitu?"

Kemudian kita kembalikan lagi pertanyaan tersebut untuk kita sendiri,

"Mengapa saya begini?"
"Lalu, apa yang ngebuat gue jadi begini?"

Yap, salah satu jawabannya adalah lingkungan, bukan hanya tempat tinggal, tapi juga lingkungan pergaulan, lingkungan pendidikan, dan disetiap lingkungan kita pasti menjadikan seorang tokoh sebagai kiblat untuk kita tiru.

"Si anu keren ya style bajunya, gue mau nyoba kek dia aah."
"Si anu kuat ya ibadahnya, coba gue kek dia."
"Si dia bisa lucu gitu ya cara ngomongnya, gue harus gitu juga."
"Mungkin, gue harus gaul kek dia biar banyak temen"

Tanpa kita sadari, hidup adalah mencontoh yang kita anggap baik di lingkungan kita, walaupun itu terasa tidak baik dari sudut pandang yang lain.

Seorang anak manusia memang tidak dapat memilih dimana lingkungan tempat mereka lahir, tetapi (diri) mereka dapat memilih tempat dimana mereka akan berkembang. -CRK-

Dan yang gue dapet, pepatah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) tidak cuma berguna sewaktu kita ngerjain tugas, tapi itu sudah jadi sifat alamiah anak manusia. Tanpa terkecuali di tulisan ini, ada banyak intisari yang sebenernya udah ditulis oleh penulis lain.


Lanjut!
4

Males Boleh, Tolol Jangan

Males boleh, tolol jangan


Sebenernya, ini self reminder buat diri gue sendiri. Karena gue rasa, gue adalah salah satu manusia termalas yang ada di muka bumi versi netizen.  Males versi gue bukan cuma males mandi pas hari libur, males gerak, males ini, itu. Tapi males yang paling parah adalah males memulai sesuatu.

Tapi, emang bener kata pepatah,

Pengalaman adalah guru terbaik

Coba kita ingat lagi, berapa kali kita tidak terjebak oleh masalah yang sama karena pengalaman?. Berapa banyak masalah yang sudah mendewasakan kita?. Berapa banyak masalah yang menguatkan kita?. Bukankah hidup adalah soal pilihan?, Lalu tidakkah kita belajar dari pilihan yang telah kita buat sebelumnya?.

Sederhananya, anggap saja sebuah latihan adalah sedikit pengalaman, dan coba lihat, orang orang cerdas yang dihasilkan oleh latihannya, orang-orang sukses yang membuat sejarah karena pengalamannya.

Kemudian, belajarlah dari pilihan sebelumnya, berapa banyak peluang yang telah di sia-siakan hanya karena malas?, Berapa banyak waktu yang terbuang percuma?. Dan, akankah kita mengulangi semua itu?.

Jika masih, tetaplah konsisten dengan kemalasan tersebut, tetapi mulailah untuk menjadi kreatif. Mulailah untuk menyelesaikan masalah dengan cara semudah mungkin. Menyelesaikan tugas dengan cara secepat mungkin.

Salah satu quotes yang sangat menginspirasi dari Dahlan Iskan,

Setiap manusia punya jatah gagal, maka habiskan jatah gagal anda di usia muda -  Dahlan Iskan
Jadi, saya juga punya motivasi sendiri dari kalimat itu,
Setiap manusia punya jatah malas, maka habiskan jatah malas anda secepat mungkin, Males boleh, tolol jangan - Caesar Kurniawan
Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, kepada-Nya saya mohon ampun. Wassalam.
Lanjut!
5

Apa Adanya




"Apa adanya aja deh"

Ngomong soal apa adanya, yang terlintas adalah soal negasi dari itu. Dari itu, apa adanya. Dibuat-buat. Jadi apa adanya adalah bualan yang sering kita lakukan. Pembohongan yang sering kita tulis. Bualan yang sering kita baca.

Apa adanya adalah kesesuaian hati dan otak, keserasian perasaan dan logika, sejalannya rasa dan kata. Apa adanya adalah putaran bumi pada porosnya, selain itu, bisa dibilang bukan.
Apa adanya adalah masalah memberanikan diri melawan gengsi.
Apa adanya adalah wujud syukur terbaik kepada Sang Maha Segala.
Apa adanya adalah memberi tanpa meminta.
Apa adanya, adalah manusia dengan seluruh munafiknya, berusaha melawan dengan cinta terhadap Tuhannya.
Apa adanya, adalah pilihan yang kita pilih.

Setelah itu, berusahalah menghindari apa adanya,
Berusahalah menjadi lebih baik.
Berusahalah menjadi hamba yang menghamba.
Berusahalah menjadi pemimpin yang mau dipimpin. 
Berusahalah menghindar dari apa adanya dengan apa adanya.


Palembang, 21 Mei 2015
Lanjut!
5

Premanisme Aparat



Halooo sahabat blogger. Akhir-akhir ini gue jarang ngeposting nih, tapi sebisa mungkin gue sempetin buat nulis di blog ini. Naaah masalah yang sering gue perhatiin akhir-akhir ini yaitu aparat keamanan kita. Yap, kalo denger kata Polisi lalu lintas, apa sih yang ada dalem benak kalian?. Pasti mayoritas keinget peluit, sapaan, surat tilang, dan uang yang dipinjem sama Si oknum.

Jadi setiap pagi pas mau berangkat kuliah, jalanan yang gue lewatin selalu macet. Oleh anak SMA, bapak-bapak yang mau nganterin anaknya, mobil-mobil dengan kelaksonnya yang merdu. Yap, semua itu udah jadi sarapan pagi gue sebelum ke kampus.

Nah terlepas dari itu semua, setiap paginya mata gue selalu terpusat pada aparat keamanan lalu lintas. Dengan rompi hijaunya, peluit di tangannya, si bapak pede banget show di jalanan setiap pagi. Belum lagi ada yang pake kacamata item, megang Handie Talkie, ditambah cincin batu akik yang super mengkilap. Udah ah, tar si bapak ke-GR-an. Yang gue perhatiin lagi, anak-anak SMA dan mayoritas pengendara sepeda motor di jalan selalu ngejauh dari si bapak. Lo tau maksud gue.

Dari sono timbul tanda tanya besar di otak gue.

INI POLISI APA PREMAN SIH ?

Aparat yang seharusnya punya citra buat jadi pembela masyarakat, malah jadi sebaliknya di mata masyarakat. Gue gak memungkiri bahwa masih banyak polisi polisi yang punya nurani baik di Negara ini. Tapi itu semua tertutup oleh selimut penyelewengan hak yang dilakukan oleh mayoritas anggota kepolisian Indonesia. Di mata masyarakat awam, polisi menjadi penjahat berseragam yang mengintai mereka di setiap lampu merah dan persimpangan jalan. Lampu merah seakan menjadi tambang emas bagi oknum yang merusak citra polisi di mata masyarakat.

Sebenernya gue gak bermaksud memandang sebelah mata ataupun menjatuhkan pihak kepolisian Negeri ini. Gue cuma prihatin dengan salah satu dari sekian banyak masalah sosial di Indonesia yang sekarang sudah jadi kebiasaan. Semoga kedepannya, aparat benar-benar menjadi pembela rakyatnya dan Pelindung bangsanya.
Lanjut!
4

Secret, Spesial buat Para Jomblo



Haloo!,
Akhir-akhir ini, pengguna internet  di Indonesia atau yang biasa kita sebut netizen khususnya pengguna media sosial dihebohkan dengan aplikasi media sosial yang biasa disebut Secret. Disebut Secret karena, melalui aplikasi ini, kita bisa sharing dan chatting dengan strangers. Secret ini adalah aplikasi media sosial yang memungkinkan penggunanya untuk bertegur sapa dengan orang tidak dikenal, tanpa mengetahui identitas orang-orang tersebut.

Udahan ah seriusnya. Jadi aplikasi yang lambangnya semacem kangguru tupai ini bisa bermanfaat, tetapi sangat mudah kalo digunain buat kejahatan. Yap, sangat mudah digunain buat kejahatan, karena di secret kita ga punya identitas. Jadi kalo mau buat statement apapun, atau nge-posting foto apapun, orang orang juga gak bakal tau identitas kita.

Sisi baiknya, disini kita bisa ngobrol sama orang-orang  yang mungkin lebih tua dari kita, yang pengalamannya lebih banyak, buat yang nyari gebetan juga gampang banget. Kita bisa ajak ngobrol dulu di chatting. Kalo seandainya klop, mungkin bisa ngomongin identitas, kalo gak klop yaudah, leave chat. Nah, buat para jomblo yang lagi nyari gebetan, sebenernya aplikasi ini sangat bermanfaat. Selain itu, kita gak perlu kenalan, langsung ngobrol, kalo pinter ngerayu, yakin deh bakal dapet temen chatting baru. Jadi kan gak kesepian lagi. Parahnya ada yang sampe ngebuat Fake Relationship. Dari namanya aja kita udah kebayang betapa ngenesnya jomblo yang ngebuat posting tersebut.

Fake Relationship yuk, F19

Gitu misalnya, jadi authornya mau ngajakin Fake Relationship (FR). Dan F19 itu maksudnya, si author mau ngasih tau kalo dia cewek berusia 19 tahun. Naaah, tapi kita juga harus hati-hati, ada juga author yang nyamar. Jadi dia cowok, tapi pura-pura jadi cewek, entah apapun tujuannya, yang jelas buat ngerjain.

Yang jelas, kaum yang paling diuntungkan dari aplikasi ini adalah para jomblo ngenes. Mereka bisa seenaknya punya pacar bayangan, tanpa tahu siapa yang jadi pasangan mereka. Entah itu cewek, cowok, anak kecil, om-om, atau malah mantannya sendiri. Tapi yang jelas, kaum jomblo yang kesepian gak bakal kesepian lagi dengan adanya aplikasi ini.


Lanjut!
8

5 Bidang Alay, menurut gue



Ketika mendengar kata alay, apasih yang terbesit di benak kalian ?. Huruf besar-kecil campur angka?, Tulisan dengan huruf dobel? Foto dengan gaya keren (menurut objek) ?. Pasti tiap-tiap orang punya visualisasi alay yang berbeda di benaknya. Kalo menurut wikipedia, alay itu adalah singkatan dari anak layangan, atau anak lebay. Selengkapnya bisa baca disini.
Ngomongin alay, setiap orang pasti punya ke-alay-annya masing-masing. Entah itu orang tua, artis, penulis, pelukis dan apapun itu. Mereka pasti pernah alay di zamannya, alay dengan gayanya. Kali ini gue pengin beropini terkait masalah bidang alay yang terjadi pada kehidupan gue dan lingkungan di sekitar gue.

1. Alay Nama

Kemungkinan besar, alay tipe ini dialami oleh mayoritas remaja Indonesia yang lahir pada tahun 90an. Mereka pasti mengenal Friendster. Sebuah situs pertemanan yang menurut gue, adalah salah satu pelopor remaja alay Indonesia. Coba deh inget nama friendster kalian. Kemudian setelah era facebook, alay tipe ini juga masih ada. Kalo gak percaya, liat temen-temen di facebook lo. Kalo gue masih ada yang pake nama Iiicha sii rainbowhearttt.

2. Alay Foto

Kalo yang ini dialami oleh mayoritas kaum hawa. Tapi bukan berarti laki-laki juga gak pernah alay. Coba inget-inget lagi, pasti lo pernah ngeliat foto dengan gaya melihat ke atas, muka dimiringin dikit, pandangan mata dibuang sesuai kemiringan kepala, daaaan jari telunjuk ditaro di depan hidung. Parahnya lagi, caption di foto dibuat dengan tulisan warna-warni yang dirasa ibarat permen cha-cha, besar-kecil, dengan sedikit tambahan simbol love. Seiring berjalannya waktu, kealayan foto ini masih berlangsung dengan dibalut selimut yang berbeda. Misalnya, foto dengan bibir oranye menggunakan aplikasi terkini. Atau empat buah foto yang dikolase dalam satu frame, kemudian di rotasi berbentuk kipas. Dan gue rasa, alay foto ini akan terus berlangsung dengan style yg berbeda.

3. Alay Tulisan

Kalo ini mah bisa gue tulis "cukup jelas". Tapi nggak apa-apa deh, gue ceritain juga. Itung-itung flashback juga kali ya. Inget tuLie$@N yg bentuknya gitu kan?. Yap, itu adalah salah satu contoh konkret tulisan alay, dan setiap orang punya gaya tulisan alaynya masing-masing.
Malah gue inget salah satu temen gue, doi cewek. Jadi waktu itu pas gue masih duduk di bangku smp, dia curhat kalo dia benci sama (sebut saja) si Cabe, Kebencian itu cuma disebabkan gara gara si cabe ngikutin gaya sms di doi  yang awalnya dikasih enter sampe beberapa baris, baru kemudian ada isi pesannya. hahahhaha. Ini contohnya.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       gGue bNci sM sSi caBe sAr, dDia nGiKuT!n g@Ya smZ gGue. . .

4. Alay Bahasa

Kalo yang ini gue gak perlu ribet ngejelasin kali ya. Cukup liat artis dengan "Twenty nine my age, ya". Dan kalian bakal ngerti, alay bahasa yg gue maksud itu, ya gituuu. Penggunaan kata yang kurang tepat mah biasa, tapi kalo udah parah(?). Pokoknya kalo mau contoh realnya, search aja  di youtube dengan keyword "twenty nine my age".

5. Alay Sosmed

Ini alay yang sedang terjadi, termasuk dalem diri gue sendiri. Coba deh, tiap makan di tempat yang dirasa keren, pasti check in di path, atau minimal di foto, terus upload ke grup temen sejawat. Abis itu, di setiap event yang dihadiri, pasti selfie rame-rame terus di upload ke medsos dengan caption yang beraneka ragam.
Salah satu alay sosmed yang lebih mainstream adalah di instagram, contohnya ini:
Aaaah, @bidadari cantik banget sih sekaraaaaang
Gak juga kok, makasih yaaa @princess yang lebih cantiiik

Coba aja bayangin kalo yang ngasih komentar itu cowok ke sesama cowok :
Aaaah, @pangeran ganteng banget sih sekaraaaaang
Gak juga kok, makasih yaaa @ksatria yang lebih ganteeeng

Jadi, kalo berdasarkan pengalaman gue sih, alay itu adalah ikut-ikutan keren pada zamannya. Yang ngebedain alay atau tidak hanyalah keberhasilan "ikut keren" tadi. Kalo berhasil, maka jadi keren, kalo gagal, maka ...

Alay itu gak akan pernah berakhir, cuma kadarnya aja yang berkurang.


Tulisan ini dibuat dengan tujuan baik, mohon maaf apabila ada kesamaan sifat tokoh didalamnya, mungkin itu bukan kebetulan.
Lanjut!
11

Mumpung



Mumpung lagi ada waktu senggang, gapapa kali ya nulis dikit. Mumpung, kalo kata orang bijak, keempatan itu gak bakal dateng dua kali. Jadi, mumpung ada kesempatan, ya ambil. Apalagi kalo kita tau kesempatan itu kesempatan terakhir.

Jadi gini, gue kan sekarang udah semester 6 nih, gak kerasa udah menuju mahasiswa tingkat akhir. Jadi bentar lagi bakal ngelepasin gelar "maha". Nah maka dari itu, di kesempatan yang tinggal sebentar ini, gue pengin manfaatin si "maha" dengan sebaik-baiknya. Nyari ilmu akademik itu tujuan kuliah, tapi kan masih (sangat) banyak hal-hal lain yang bisa kita dapetin.

Salah satunya, belajar memberi kontribusi kecil terhadap lingkungan kita. Kehidupan organisasi, salah satu tempat "belajar hidup" favorit gue. Disini gue bisa dapet temen-temen baru, pengalaman baru, belajar ngeliat situasi, belajar memahami pribadi orang, belajar hidup lah pokoknya. Tapi tujuan umumnya satu, belajar jadi lebih baik.

Lingkup kampus, yang notabene jadi miniatur kehidupan masyarakat. Biasanya seluruh lapisan masyarakat di dalam kehidupan kampus. Mulai dari suku, etnis, kultur, budaya, kelas ekonomi mulai dari ekonomi lemah sampai tingkat atas. Semua aspek itu menjadi nilai-nilai yg membentuk karakter seseorang. Nah, mumpung jadi mahasiswa, hal-hal itu bisa dipelajari di dalam organisasi. Itu aja sih, intinya, mumpung ada kesempetan, walaupun udah semester (menuju) akhir, ya gue harus manfaatin itu. Belajar itu kan gak harus lewat buku, gak harus di dalem kelas, gak harus ada guru. Semoga deh sisa-sisa waktu bergelar "maha" ini bisa gue manfaatin sebaik-baiknya.

Jadi mahasiswa itu terlalu sebentar, kalo dimanfaatin dengan baik dan dapet asyiknya. Tapi terlalu lama kalo kerjanya cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang. -Caesar Rizky K-
 *abaikan quote gaje diatas*
Lanjut!
9

Konsumtif



Akhir-akihir ini gue sering denger, baca, ngeliat orang-orang yang secara gak langsung mencerminkan perilaku konsumtif orang Indonesia. Bahkan gue rasa gue termasuk orang yang agak konsumtif. Menurut gue sendiri, perilaku konsumtif itu ialah sebuah cara pandanh yang lebih mendahulukan tercapainya sebuah keinginan daripada kebutuhan. Kalo salah koreksi yaaa. Kenapa gue ngomong gitu, coba kita perhatiin, berapa orang yang heboh pengin beli Iphone 6, pengin beli kamera baru, pengin beli laptop baru, padahal semua itu sudah mereka miliki dan masih berfungsi.

Dan lagi menurut gue perilaku konsumtif ini juga menular. Iya, gara-gara si A yang beli laptop baru, si B gakmau kalah, ini terus menjalar, udah kek tanaman rambat. Padahal uangnya kan bisa di tabung, bisa di sedekahin, bisa dibeliin kebutuhan yang bener-bener butuh. Tapi namanya juga manusia, kita gak pernah puas dengan yang kita miliki. Hal ini dipicu oleh besarnya rasa "tanggung".

A: "Gue mau beli Iphone 5 nih sob."
B: "Loh, sekalian aja sih beli Iphone 6 plus, tanggung loh, beda harganya cuma dikit."
A: "Dikit pale lu pitak, tapi iya juga ya, tanggung."

Rasa tanggung itu ibarat pedang, kalo digunain dalam berkarya, dia membantu, tapi kalo dogunain dalam aspek keinginan, dia membunuh

Kemudian lagi orang yang punya perilaku konsumtif cenderung boros dan gak punya tabungan. Iya kalo boros mana bisa punya tabungan. Yang ada malah kurang mulu. Keinginan juga gak pernah habis, padahal kantong udah bolong.

Dan lagi salah satu pemicu terbentuknya pribadi konsumtif menurut gue yakni, gengsi. Gengsi tinggi kalo dana mencukupi mah gak masalah, tapi kalo gengsi setinggi langit, sementara makan aja kita susah, yaudah tamat deeeh.

Gak bisa dipungkiri kalo setiap manusia pasti punya perilaku konsumtif di bidangnya masing masing. Ada yang konsumtif di fashion ada juga yg di gadget misalnya. Tantangan kita sekarang ialah gimana caranya kita harus bisa meminimalisir kadar perilaku ini. Semoga tulisan ini bermanfaat, khususnya buat gue.
Lanjut!
7

Asas Perbandingan



Akhir-akhir ini gue sering mikir tentang perbandingan. Dan gue yakin lo juga pasti pernah ngalamin ini. Bagaimanapun bentuknya, perbandingan gak bisa dilakuin sendiri. Sama kayak pecahan di matematika, ada pembilang, ada penyebut. Bedanya, perbandingan versi gue Mesti ada 3 aspek, pertama si pembanding, dan 2 yang lainnya jadi objek yang dibandingin. Kalo yang lo bandingin itu mahkluk hidup dua faktor tersebut mesti sepadan. Dalam artian gini, gak mungkin kan kita ngebandingin gini,
Ikan kok gak bisa terbang kayak burung ya?
Mau sampe kerak biawak kawin sama amoeba kek, mau di ceramahin Mario teguh kek, mau ditembak pake AK-47 kek, ikan gak bakal bisa terbang. Dan yang gue herannya lagi, manusia sering banget nilai manusia lain seenaknya, tanpa terkecuali gue sendiri. Misalnya gini,

Itu anak kok cupu ya, kuliah pake celana training, dia kira mau jogging?
Sebenernya yang cupu siapa? yang gaul siapa?. Sekarang coba lo liat, lagi musim jogger pants, hidup-hidup dia, yang beli celana dia, yang make dia, lo cuma bisa ngebacot. Iya, manusiawi. Tapi yang parahnya, kadang-kadang seseorang cuma bisa ngebandingin si A sama si B dari satu sudut pandang. Dan orang yang ngebandingin lupa sama diri sendiri, coba kalo dia ikut serta dalam perbandingan itu, belum tentu dia lebih baik dari Si A dan Si B.

Satu hal yang sering gue omongin sama diri gue sendiri *gila dong* dan sama temen-temen gue,
Baik-buruknya seseorang itu tergantung siapa yang dilihat, dan siapa yang melihat
Coba aja lo liat gebetan yang lagi lo incer, mau dia kentut sampe berak dicelana kek, mau dia tompelan kek, lo selalu ngeliat dia dari satu sisi, yaitu sisi baiknya. Sebaliknya, coba lo liat orang yang lo benci, atau bisa dibilang musuh lo, ya pasti lo nilai dari satu sisi juga, sisi buruknya. Gapapa sih nilai orang, ngebandingin orang tapi jangan cuma dari sudut pandang emosional. Coba juga nilai dari sisi kemanusiaan.

Ada lagi nih, temen gue (cowok) yang nilai cewek cuma dari ngeliat pipinya, iya, pipi. Sampe ngomong kek gini,
Cewek cakep itu yang pipinya tembem, kalo pipinya tirus gitu gua mah ogah ah
Enteng beneeeer, enteeeng udah kek abis ngupil. Kadang-kadang lucu. Ada lagi temen gue (cewek), sebut saja nunung. Si nunung seneng sama cowok di kampus gue, sebut saja dadang. Jadi si Nunung udah ngepoin si Dadang abis-abisan, dari mulai Dadang pinter maen basket, pinter maen gitar, bawa mobil plat kuning,  sampe ukuran celana Dadang juga Nunung tau. Tapi Nunung gak jadi suka sama Dadang cuma gara-gara satu hal, Dadang orangnya selengean abis, gak kayak mantan si Nunung yang romantis. Ya kalo si Dadang romantis mah, otomatis ga selengean, dan kalo ga selengean, belum tentu namanya Dadang

Lagi-lagi perbandingan, perbandingan yang gak pada tempatnya. Padahal, menurut kacamata gue, Manusia itu diciptain tuhan dengan poin yang sama, cuma ditempatin di posisi yang berbeda. Kita dikasih 4 poin nih misalnya, sementara ada pilihan gini.

1 Cantik/Ganteng
2 Pinter Musik
3 Pinter Olahraga
4 Pinter nulis
5 Tajir
6 Beruntung


Lo cuma bisa milih 4 dari 6 poin diatas. Misalnya lo pilih poin 1-4, otomatis lo gak tajir dan gak beruntung. Jadi lo bisa manfaatin 4 poin tadi buat ngedapetin kekayaan biar bisa tajir. Setiap manusia pasti punya kekurangan, dan pasti punya kelebihan dibalik itu. Dan yakinlah, Tuhan udah melengkapi setiap umatnya dengan porsi kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Lanjut!
5

Tahun Baru 2015




Gak kerasa, udah tahun baru (lagi). Yap, usia bumi semakin tua, usia kita dan orang-orang terdekat semakin berkurang. Ini bukan soal kembang api, perayaan tahun baru, atau dengan siapa merayakannya. Ini soal resolusi, soal target, masalah masa depan. Gaktau, gue ngerasa tahun ini bakalan jadi titik balik buat gue. Mudah-mudahan.

Udah ah, balik lagi ke pokok permasalahan, tahun baru menurut gue cuma sekedar sarana checkpoint. Tahun baru ngingetin kita kalo waktu berjalan terus. Waktu terus menggulirkan rodanya tanpa ampun. Dan kalo kita diem diem aja, kita bakalan kelindes sama si roda waktu. satu-satunya cara biar gak di giles sama roda waktu ya kita harus bergerak terus.

Ngomongin soal harapan, Setiap orang pasti punya harapan yang intinya sama,
"Ingin jadi lebih baik"
Dalam hal apapun itu, setiap orang pasti inginn jadi lebih baik. Lebih baik dalam karir, usaha, hubungan, materi apapun itu. Dan setiap tahun harapan demi harapan terus muncul dari kepala-kepala manusia. Yang ngebedain, ada harapan yang cuma sekedar harap, dan ada harapan yang terealisasikan. Lagi-lagi waktu yang nentuin itu semua.

Tahun ini udah memasuki tahun ke-15 era millenium, dan lu masih jomblo?. Bukan, bukan itu, banyak hal yang jauh lebih penting. Gak kerasa tahun ini gue udah memasuki semester 6 kuliah. Dan parahnya, gue ngerasa masih minim pengalaman kalo dibandingin temen-temen gue. Buat kedepannya, gue berharap dan berusaha untuk menambah pengalaman gue, apapun itu. Inget kata-kata yang tercetak di buku tulis waktu lo sekolah kan?, yang bunyinya gini,

Experience is the best teacher

Kalo ngomongin target, sebenernya gue bukan orang yang ambisius dan suka "menargetkan" sesuatu, gue lebih seneng nikmatin setiap waktu tanpa ngerasa di kejer-kejer oleh target. Tapi kalo sekarang, rasanya gue gak bisa lagi santai-santai, gue harus punya target, buat gue, buat masa depan gue. Kalo gue terus-terusan santai, mungkin tuhan dan waktu juga bakal nganggep "santai" masa depan gue. Tahun ini, gue harus punya target, harus punya cita-cita, dan berusaha melebihi target itu. Kalo kata orang-orang bijak sih, kita harus keluar dari comfort zone biar bisa sukses.

Untuk tahun ini gak begitu banyak yang gue "semogakan", tapi gue bakal berusaha lebih keras unruk "mengusahakan". Sebenernya yang pengen gue sampein disini, tahun baru bukan cuma tentang doa dan harapan-harapan kosong yang digantung. Tapi sebesar apa usaha yang kita lakuin buat ngeraihnya. Buat gue dan buat orang-orang yang baca tulisan ini, semoga tahun ini doa dan harapan kita bukan sebatas itu, tapi diimbangi dengan usaha yang selalu melebihi harapan, yang kemudian terealisasikan.

Bukan soal harapan yang disemogakan, tapi tentang niat yang terus diusahakan
Good night!, 





Lanjut!
4

Baru sadar kalo gue (masih) bodoh



Udah beberapa hari ini gue jalan-jalan terus. Iya, jalan jalan di dunia maya maksudnya. Kalo istilah bahasa palembang  Inggrisnya sih Blogwalking. Yap dari sana gue dapetin sesuatu yang baru. Gak cuma satu sih sebenernya. Banyak hal baru. Salah satunya gue sadar kalo gue ini (masih) bodoh. Iya bodoh. Gue ngomong gitu karena menurut kacamata gue, setelah gue berusaha melihat sebagian kecil dari dunia maya yang maha luas ini, gue ngerasa gue makin kecil. Kalo ada orang yang bilang di depan laptop itu bosen, pasti laptopnya kagak terhubung ke internet. Kalo udah terhubung ke internet masih bilang bosen juga. . . . .



Yap, gue belum bisa apa-apa selain usaha buat mengurangi kadar kebodohan gue. Kenapa gue gak bilang menambah kecerdasan(?). Karena kalo ditambah cerdasnya, berarti bodoh gue tetp dong, dan gue bakal ngerasa cerdas. Tapi kalo bodoh gue yang dikurangin, Mudah-mudahan gue bakal terus merasa bodoh dan terus berusaha untuk jadi lebih baik lagi. jangan gue aja lah, lu juga. Eh tapi kalo gamau juga gapapa.

Salah satu hal yang bikin gue nyesel adalah "kenapa gak dari dulu gue hobi baca". Iyasih jaman dulu uang jajan cuma cukup buat beli gula palu sama arumanis doang. Beli buku sekolah mahal, inernet juga masih abal-abal. Dan gue rasa salah satu hal yang harus diperbaiki adalah pola pendidikan dasar di Indonesia yang mengenalkan buku bacaan yang cenderung membosankan kepada anak-anak kecil. Mungkin ini yang menumbuhkan mental "Takut membaca". Kemudian ketakutan ini tumbuh seiring waktu. Terlepas dari itu, balik lagi ke diri masing-masing. Dan sekarang menurut gue baca itu adalah salah satu alternatif liburan. Kan enak bisa liburan gratis, cuma modal kuota. Sekali lagi tulisan ini gue buat berdasarkan pandangan dari kacamata gue, kalo lu punya pandangan yang lain ya silahkan tulis di blog lu comment.


Lanjut!
2

Wabah demam Film India?


Kalian pasti tau tentang film India yang sedang "mewabah (lagi)" di Indonesia. Setelah tahun 2000-an, film India sempat surut di Indonesia. Pada era itu, beberapa bintang film India seperti, Shahrukh Kahn, Kareena Kapoor Amithaba chan, dan beberapa nama lain yang sangat populer di Indonesia. Siapa yang tak tahu dengan film Kuch-kuch hota hai. Bahkan film tersebut masih populer hingga sekarang 

Pada dua tahun terakhir, film India kembali populer di Indonesia dengan wajah-wajah baru. Salah satunya adalah film Mahabharata. Film yang mengisahkan perang saudara antara pandawa dan kurawa ini yang memulai "wabah baru" film India di Indonesia. Kali ini bukan Shahrukh kahn dan kawan-kawan yang jadi bintangnya. Tetapi wajah-wajah baru yang berhasil menghibur berjuta pasang mata di Indonesia. Sebut saja Shaheer sheikh (Arjuna), Pooja Sharma (Drupadi), dan beberapa nama lainnya. Gak sampe situ doang, setelah mahabharata, makin banyak film India yang hadir di Indonesia, Ramayana, Jodha Akbar dan Navia misalnya. 

Kalo gue pribadi, lumayan terhibur dengan film-film ini. Tapi disisi lain gue turut prihatin. Salah satu kunci keberhasilan Film Mahabharata yakni punya nilai edukatif di setiap episodenya. Hal ini ngebuktiin kalo industri perfilman Indonesia mulai kehabisan ide untuk menghibur bangsanya. Menurut gue, Industri perfilman Indonesia sekarang kurang mempertimbangkan Edukasi. Industri film di Indonesia kadang hanya mengacu pada keuntungan dan cuma ngeliat dari aspek hiburan. Coba lo inget lagi, berapa banyak sih sinetron Indonesia yang ceritanya gak selesai, garing dan parahnya ada yang pemeran utamanya hilang. 

Yap, tulisan ini gue buat bukan untuk menjelekkan, tapi semata-mata ungkapan unek-unek gue tentang film-film Indonesia yang mungkin menurut gue kurang baik. Gue berharap, untuk kedepannya Industri perfilman Indonesia gak cuma mikirin popullaritas, tapi juga pesan moral dan edukasi buat penonton. Itu kan menurut gue ya, dan itu harapan gue. Semoga...
Lanjut!
4

Tentang Menghargai




Harga gak melulu tentang uang. Harga juga gak melulu tentang materi. Kalo menurut gue, ada harga yang nilai tukarnya lebih mahal dari semua itu. Harga yang tak ternilai. Kalo uang mah bisa kita hitung nilainya. Menghargai, cuma ditambah awalan men- dan akhiran -i. Keliatannya simpel, mudah. Coba aja kalo gak percaya,

Gue ngerasa sering banget gak dihargai. dan orang lain juga mungkin sering ngerasa gak gue hargai. Penghargaan sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh manusia yang sedang berproses. Tetapi manusia bijak menganggap penghargaan hanya bualan, dan penghinaan sebagai suplemennya. Nah gue manusia normal yang sedang berproses. Gue butuh penghargaan, tapi penghinaan juga gak ngebuat gue langsung mundur. Itu malah ngebuat gue pengen ngebuktiin kalo mereka gak lebih baik dari gue.

Gue cuma bingung, disatu sisi, manusia pengen dihargai, tapi disisi lain, manusia susah bener buat menghargai. Bicara soal karya, gue sering banget dapet komen yang nilai baik buruknya karya gue. Itu sih hak mereka. Tapi, gue juga punya hak dong buat dapet penghargaan. Ah sudahlah, anggep aja mereka kurang mikir.

Gini deh, entah kmaren ada quote gini lewat di Timeline gue :

"Lebih baik berkarya walaupun itu buruk, daripada mereka yang cuma bisa komentar, tapi karnyanya nihil"

Dan buat lo yang ngebaca artikel ini (termasuk gue sendiri), tolong berusahalah buat menghargai apapun yang udah orang lain buat untuk lo. Namanya juga manusia...
Lanjut!